hello....
it is my first time open my blog in 2015...
i think it's a cool year...
i can get love more and more from all of my lovely...
semoga saja awet yaa...
oh iya,,, ini udah semester 4 rasanya.......
aduuuhhhhhh,,, gak kerasa beneran dah....
cepet banget....
so amazing banget, bersyukur bgt sama Tuhan masih dikasih kesempatan sampai saat ini...
oiya, seandainya angin dapat berkata, "aku ingin sekali dia berbisik kepada ayah, ibu, kakak dan adik, bahwa aku sangat merindukan mereka.."
semoga saja yaa,,,, :)
Homunis Salvator
saya seorang mahasiswa keperawatan... mahasiswa, seneng sihh..... tapi susah jalaninya....
have fun
gua maria kerep
welcome
Senin, 23 Maret 2015
Sabtu, 06 Desember 2014
PENDIDIKAN KESEHATAN di KELUARGA

TUGAS
KELOMPOK PENDIDIKAN KESEHATAN di KELUARGA
Disusun
untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Homecare
Dosen
Koordinator : Ns. ZUBAIDAH, M.Kep., Sp.Kep.An
Disusun
Oleh Kelompok :
Aga Arif A 22020113140118
Hidayatul Majid 22020113120001
Novinda Kusumawhardani 22020113130077
Nurul Endah P 22020113130113
Rindiana Devita 22020113130080
Rutlita
Yessi Malau 22020113140093
A.13.1
PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014
A.
KELUARGA
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, keluarga adalah ibu dan bapak beserta
anak-anaknya seisi rumah.
1. Definisi
keluarga menurut para ahli :
a. Bailon
dan Maglaya (1997)
Keluarga
adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan,
atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi
satu sama lainnya dalam
perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.
b. Allender
dan spradley (2001)
Keluarga
adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan
emosional, dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.
2. Tipe
keluarga
Menurut Friedman, Bowden &
Jones tahun 2003 dalam buku ajar keperawatan dewasa mengatakan bahwa agar
dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan
maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.
a. Tradisional
ü The
nuclear family (keluarga inti)
Keluarga
yang terdiri dari suami,istri dan anak.
ü The
dyad family
Keluarga yang terdiri
dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah.
ü Keluarga
usila
Keluarga yang terdiri
dari suami dan istri yang sudah tua dengan anak yang memisahkan diri.
ü The
childless family
Keluarga tanpa anak
karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya yang
disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
ü The
extended family
Keluarga yang terdiri
dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family
disertai paman, tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan.
ü The
single-parent family
Keluarga yang terdiri
dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya
melalui proses perceraian, kematian atau karena ditinggalkan (menyalahi hukum
pernikahan.
ü Commuter
family
Kedua orang tua bekerja
dikota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan
orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga saat
weekends atau pada waktu-waktu tertentu.
ü Multigenerational
family
Keluarga dengan
beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
ü Kin-network
family
Beberapa keluarga inti
yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan
barang-barang dan pelayanan yang sama.
ü Blended
family
Duda atau janda (karena
perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan anak dari hasil perkawinan
atau dari perkawinan sebelumnya.
ü The
single adult living alone/single-adult family
Keluarga yang terdiri
dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan
(separasi).
b. Non
tradisional
ü The
unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri
dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
ü The
stepparent family
Keluarga
dengan orang tua tiri.
ü Commune
family
Beberapa pasangan
keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama
dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama,
sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.
ü The
nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup
bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
ü Gay
and lesbian families
Seseorang yang
mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana “marital partners”.
ü Cohabiting
family
Orang dewasa yang hidup
bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
ü Group-maariage
family
Beberapa orang dewasa
yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa saling
,enikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexual dan
membesarkan anaknya.
ü Group
network family
Keluarga inti yang
dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan
saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan
bertanggung jawab membesarkan anaknya.
ü Foster
family
Keluarga menerima anak
yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat
orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya.
ü Homeless
family
Keluarga yang terbentuk
dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang
dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
ü Gang
Sebuah bentuk keluarga
yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan
keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan
kriminal dalam kehidupannya.
3. Fungsi
keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman, Bowden
dan Jones (2003) dibagi menjadi lima, yaitu :
a. Fungsi
efektif dan koping :
Keluarga memberikan
kenyamanan emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan
mempertahankan saat terjadi stres.
b. Fungsi
sosialisasi :
Keluarga sebagai guru,
menanamkan kepercayaan, nilai, sikap dan mekanisme koping, memberikan feed-back
dan memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.
c. Fungsi
reproduksi :
Keluarga
melahirkan anak.
d. Fungsi
ekonomi :
Keluarga
memberikan financial untuk anggota keluarganya dan kepentingan dimasyarakat.
e. Fungsi
atau perawatan kesehatan :
Keluarga
memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.
B. PENDIDIKAN
KESEHATAN
Pendidikan
kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga keperawatan
karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap
memberikan asuhan keperawatan di mana saja ia bertugas, apakah itu terhadap
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Effendy, 1998). Pendidikan
kesehatan adalah suatu usaha atau kegiatan untuk membantu individu, keluarga,
dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuannya untuk mencapai kesehatan secara
optimal (Notoatmodjo, 1993 [seperti] dikutip oleh Digilib USU, 2010). Pendidikan
kesehatan erat kaitannya dengan penyuluhan kesehatan dan berorientasi pada
perubahan perilaku seseorang. Pendidikan kesehatan tidak hanya bertujuan untuk
membangun atau mengembangkan kesadaran diri dengan berdasarkan pengetahuan
kesehatan. Lebih dari itu, pendidikan kesehatan bertujuan untuk membangun
perilaku kesehatan individu dan masyarakat (Asmadi, 2008).
Pendidikan
kesehatan mempunyai peranan penting dalam mengubah dan menguatkan faktor
perilaku (predisposisi, pendukung, dan pendorong) sehingga menimbulkan perilaku
positif dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku, pendidikan
kesehatan, dan status kesehatan memiliki pola hubungan yang saling berpengaruh
satu sama lain (Green, 1980 [seperti] dikutip oleh Heri, 2007).
Tujuan
Suatu
pendidikan kesehatan dalam keluarga secara umum memiliki tujuan untuk mengubah
perilaku individu dan masyarakat di bidang kesehatan. Menurut WHO (1954),
tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk merubah perilaku orang atau masyarakat
dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat. Tercapainya perubahan
perilaku individu, keluarga, dan masyarakat dalam memelihara perilaku sehat dan
mengupayakan derajat kesehatan yang optimal merupakan tujuan pokok penkes.
Secara lebih rinci tujuan pendidikan kesehatan disebutkan oleh azwar (1983)
dalam suryani (2009) menjadi tiga macam, yaitu:
a. Perilaku
yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat. Dengan
demikian kader kesehatan mempunyai tanggung jawab di dalam penyuluhannya
mengarahkan kepada keadaan bahwa cara-cara hidup sehat menjadi kebiasaan hidup
masyarakat sehari-hari.
b. Secara
mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya sendiri maupun
menciptakan perilaku sehat di dalam kelompok. Itulah sebabnya dalam hal ini
pelayanan kesehatan dasar (phc) diarahkan agar dikelola sendiri oleh
masyarakat, dalam hal bentuk yang nyata adalah pkmd, satu contoh pkmd adalah
posyandu. Seterusnya dalam kegiatan ini diharapkan adanya langkah-langkah mencegah
timbulnya penyakit.
c. Mendorong
berkembangnya dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada secara tepat.
Ada kalanya masyarakat memanfaatkan sarana kesehatan yang ada secara
berlebihan. Sebaliknya sudah sakit belum pula menggunakan sarana kesehatan yang
ada sebagaimana mestinya.
Pendidikan
kesehatan juga memiliki aspek penting yang salah satu diantaranya adalah
komunikasi. Cara berkomunikasi yang digunakan dalam pendidikan kesehatan akan
mempengaruhi hasil dalam memberikan pendidikan kesehatan pada seseorang.
Komunikasi kesehatan masyarakat telah bergeser dari strategi yang sebagian demi
sebagian (piecemeal strategies) ke
proses yang menyeluruh berdasarkan atas penelitian dan perencanaan yang
berfokuskan pada konsumen (Rasmuson, 1988 [seperti] dikutip oleh Machfoedz
& Suryani, 2008). Tujuan komunikasi kesehatan masyarakat adalah menumbuhkan
perubahan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan dan berpacu pada peningkatan
derajat kesehatan. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan kesehatan menurut
WHO.
Pendidikan
kesehatan tidak dilakukan secara serta merta tanpa persiapan atau perencanaan
khusus. Perencanaan menjadi langkah awal penentu dalam sukses atau tidaknya
sebuah program. Bagian dari perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi aspek
perilaku yang menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan kemudian dilanjutkan
dnegan pengambilan langkah-langkah lain yang harus ditempuh sebagai bentuk
pelaksanaan tindak lanjut dari perencanaan. Setelah melakukan perencanaan dan
pelaksanaan dalam pendidikan kesehatan, pemberi pendiidkan kesehatan perlu
mengadakan penilaian. Dengan adanya penilaian, maka kita akan dapat mengetahui
hasil pekerjaan kita, yang akan dapat melihat kekurangannya sejauh mana hasil
kemajuan dari sistem pendidikan kesehatan yang telah diterapkan untuk mengatasi
masalah kesehatan tersebut (Machfoedz & Suryani, 2008).
Sasaran
Secara
umum pendidikan kesehatan memiliki tiga sasaran kelompok, yaitu pendidikan
kesehatan individual dengan sasaran individu, pendidikan kesehatan kelompok
dengan sasaran kelompok dan pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran
masyarakat.
Meskipun
berbeda, tujuan yang ingin dicapai dari ketiga sasaran itu serupa, berupa
perubahan sikap dan perilaku individu kelompok, atau pun masyarakat agar
menjadi lebih baik.
Tahap-tahap
pendidikan kesehatan
Pendidikan
kesehatan yang baik harus dilakukan secara terstruktur agar tujuan dapat
dicapai dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan langkah yang sistematis. Langkah
yang dapat ditempuh dalam suatu pedidikan kesehatan antara lain:
a.
Tahap sensitisasi
Tahap
pertama berisi pemberian informasi mengenai masalah kesehatan, pengetahuan
kesehatan, serta fasilitas kesehatan yang ada. Namun demikian pada tahap ini
belum merujuk pada perubahan perilaku.
b.
Tahap publisistas
Melanjutkan
tahap yang pertama dengan fokus pada publikasi layanan kesehatan.
c.
Tahap edukasi
Tahap
ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap menjadi apa yang
diinginkan, metode yang sesuai dengan proses belajar dan mengajar.
d.
Tahap motivasi
Diharapkan
pada tahap ini masyarakat dapat merubah perilaku dan melanjutkan hal tersebut.
- PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM KELUARGA
Pendidikan Kesehatan
keluarga berfokus pada fungsi keluarga
yang sehat dalam perspektif sistem keluarga dan memberikan pendekatan terutama
pencegahan . Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berfungsi secara
sehat secara luas dikenal: keterampilan komunikasi yang kuat, pengetahuan tentang
perkembangan khas manusia, keterampilan membuat keputusan yang baik, positif
harga diri ,dan hubungan interpersonal yang sehat. Tujuan pendidikan kehidupan
keluarga adalah untuk mengajar dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
ini untuk memungkinkan individu dan keluarga untuk berfungsi optimal .
Pendidikan kesehatan
keluarga mempertimbangkan isu-isu sosial termasuk ekonomi, pendidikan,
masalah kerja keluarga, orangtua, seksualitas, gender dan lainnya dalam konteks
keluarga. Mereka percaya bahwa masalah sosial seperti penyalahgunaan zat,
kekerasan dalam rumah tangga, pengangguran, hutang, dan kekerasan
terhadap anak dapat lebih efektif ditangani dari perspektif yang menganggap
individu dan keluarga sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Pengetahuan
tentang fungsi keluarga yang sehat dapat diterapkan untuk mencegah atau meminimalkan
banyak masalah ini.
Tingkat pencegahan dalam keluarga
1. Pencegahan
primer
Pencegahan primer merupakan aktivitas
yang dilakukan untuk mencegah penyakit, ketidakmampuan dan cedera. Pencegahan
primer melibatkan peningkatan kesehatan melalui penyuluhan kesehatan dengan penekanan
pada pembentukan gaya hidup sehat guna meningkatkan tingkat fungsional optimal
(seperti nutrisi, latihan, tiur, rekreasi, relaksasi, tidak menggunakan
alkohol, tembakau, dan obat-obatan), pembentukan kepribadian yang sehat,
konseling, dan pembentukan lingkungan sosial yang sehat (Hitchcook, Stubert
& Thomas, 1999). Pencegahan primer meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan keluarga.
Pencegahan primer berdampak dalam
peningkatan promosi kesehatan di keluarga, peningkatan kesehatan keluarga
menyeluruh untuk setiap anggota keluarga. Promosi kesehatan di desain agar
dapat berkontribusi dalam pertumbuhan, perluasan atau menghasilkan yang terbaik
bagi kesehatan. promosi kesehatan hal yang positif, proses dinamis berfokus
pada peningkatan kualitas hidup dan perbaikan, bukan semata-mata menghindar
dari penyakit (Pender, Carolyn & Mary, 2002).
2. Pencegahan
sekunder
Pencegahan sekunder adalah aktivitas
yang berhubungan dengan deteksi dini dan treatmen. Fokus pencegahan ini adalah
dengan melakukan skrining untuk mendeteksi penyakit pada fase awal.
3. Pencegahan
tersier
Pencegahan tersier merupakan aktivitas
yang dilakukan untuk mencegah penyakit tidak bertambah parah (kronis) dan tidak
menimbulkan ketidakmampuan pada individu. Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan
melakukan rehabilitasi kepada individu yang meliputi rehabilitasi fisik,
psikis, dan spiritual (Hitchcook, Stubert & Thomas, 1999).
Tujuan
keperawatan keluarga
Tujuan umum keperawatan keluarga
adalah meningkatkan kesadaran, keinginan, dan kemampuan keluarga dalam
meningkatkan, mencegah, memelihara kesehatan mereka sampai pada tahap yang
optimal dan mampu melaksanakan tugas-tugas mereka secara produktif.
Tujuan khususnya adalah
meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan keluarga dalam hal
1. Mengidentifikasi
masalah yang mereka hadapi
2. Mengambil
keputusan tentang siapa/kemana dan bagaiman pemecahan masalah
3. Meningkatkan
mutu kesehatan keluarga
4. Mencegah
terjadinya penyakit
5. Melaksanakan
usaha penyembuhan
6. Melaksanakan
usaha rehabilitasi penderita melalui asuhan keperawatan
7. Membantu
tenaga profesional dalam menanggulangi masalah
Peran, fungsi,
dan kompetensi perawat keluarga
Peran adalah pola tingkah laku yang
diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau pelaksana satu
pekerjaan yang pantas dilakukan oleh orang tersebut. Dalam meningkatkan
kemampuannya menyelesaikan masalah kesehatan, perawat dapat berperan dalam
keperawatan keluarga sebagai:
1.Pemantau
kesehatan (health monitor).
Perawat
membantu keluarga mengenali penyimpangan kesehatan dengan menganalisis data
secara objektif serta membuat keluarga sadar tentang masalah di keluarga.
2.Pemberi
asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang sakit.
3.Koordinator
perawatan kesehatan keluarga.
4.Fasilitator
Perawat
dapat meningkirkan rintangan yang menghambat perawatan kesehatan keluarga.
5.Pendidilk
Perawat
harus mampu memberi pendidikan pada klien agar mampu mengatasi masalahnya
sendiri.
6.Penasehat
Dengan
komunikasi yang baik, keluarga akan berani meminta nasehat perawat dan
perawat akan memberi nasehat yang benar.
Daftar Pustaka
Ali, Z. (2010). Pengantar
Keperawatan Keluarga (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Asmadi.
(2008). Konsep Dasar Keperawatan
(edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Bastable,
S. B. (1999). Perawat Sebagai Pendidik:
Prinsip-Prinsip Pengajaran dan Pembelajaran (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Effendy,
N. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan
Kesehatan Masyarakat (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Machfoedz,
I., Suryani, E. (2008). Pendidikan
Kesehatan Bagian dari Promosi Kesehatan (edisi kesatu). Yogyakarta:
Fitramaya.
Maulana,
H. D. J. (2007). Promosi Kesehatan (edisi
kesatu). Jakarta: EGC.
Langganan:
Komentar (Atom)