have fun

have fun
gua maria kerep

welcome

Welcome to my blog

Sabtu, 06 Desember 2014

PENDIDIKAN KESEHATAN di KELUARGA




Logo_UNDIP.jpg


TUGAS KELOMPOK PENDIDIKAN KESEHATAN di KELUARGA
Disusun untuk  memenuhi Tugas Mata Kuliah Homecare
Dosen Koordinator :  Ns. ZUBAIDAH, M.Kep., Sp.Kep.An

Disusun Oleh Kelompok         :
Aga Arif A                                          22020113140118
Hidayatul Majid                                  22020113120001
Novinda Kusumawhardani                 22020113130077
Nurul Endah P                                                22020113130113
Rindiana Devita                                  22020113130080
Rutlita Yessi Malau                            22020113140093
A.13.1

PROGRAM   STUDI  ILMU  KEPERAWATAN
JURUSAN  KEPERAWATAN  FAKULTAS  KEDOKTERAAN
UNIVERSITAS   DIPONEGORO
2014
A.    KELUARGA
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keluarga adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya seisi rumah.
1.      Definisi keluarga menurut para ahli :
a.       Bailon dan Maglaya (1997)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.
b.      Allender dan spradley (2001)
Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.
2.      Tipe keluarga
Menurut Friedman, Bowden & Jones  tahun 2003 dalam buku  ajar keperawatan dewasa mengatakan bahwa agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.
a.       Tradisional
ü  The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami,istri dan anak.
ü  The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah.
ü  Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua dengan anak yang memisahkan diri.
ü  The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
ü  The extended family
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai paman, tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan.
ü  The single-parent family
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian atau karena ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan.
ü  Commuter family
Kedua orang tua bekerja dikota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga saat weekends atau pada waktu-waktu tertentu.
ü  Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
ü  Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama.
ü  Blended family
Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan anak dari hasil perkawinan atau dari perkawinan sebelumnya.
ü  The single adult living alone/single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi).

b.      Non tradisional
ü  The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
ü  The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri.
ü  Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.
ü  The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
ü  Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana “marital partners”.
ü  Cohabiting family
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
ü  Group-maariage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa saling ,enikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
ü  Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan anaknya.
ü  Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
ü  Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
ü  Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

3.      Fungsi keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman, Bowden dan Jones (2003) dibagi menjadi lima, yaitu :
a.       Fungsi efektif dan koping :
Keluarga memberikan kenyamanan emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan mempertahankan saat terjadi stres.
b.      Fungsi sosialisasi :
Keluarga sebagai guru, menanamkan kepercayaan, nilai, sikap dan mekanisme koping, memberikan feed-back dan memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.
c.       Fungsi reproduksi :
Keluarga melahirkan anak.
d.      Fungsi ekonomi :
Keluarga memberikan financial untuk anggota keluarganya dan kepentingan dimasyarakat.
e.       Fungsi atau perawatan kesehatan :
Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.

B.     PENDIDIKAN KESEHATAN
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga keperawatan karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan asuhan keperawatan di mana saja ia bertugas, apakah itu terhadap individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Effendy, 1998). Pendidikan kesehatan adalah suatu usaha atau kegiatan untuk membantu individu, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuannya untuk mencapai kesehatan secara optimal (Notoatmodjo, 1993 [seperti] dikutip oleh Digilib USU, 2010). Pendidikan kesehatan erat kaitannya dengan penyuluhan kesehatan dan berorientasi pada perubahan perilaku seseorang. Pendidikan kesehatan tidak hanya bertujuan untuk membangun atau mengembangkan kesadaran diri dengan berdasarkan pengetahuan kesehatan. Lebih dari itu, pendidikan kesehatan bertujuan untuk membangun perilaku kesehatan individu dan masyarakat (Asmadi, 2008).
Pendidikan kesehatan mempunyai peranan penting dalam mengubah dan menguatkan faktor perilaku (predisposisi, pendukung, dan pendorong) sehingga menimbulkan perilaku positif dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku, pendidikan kesehatan, dan status kesehatan memiliki pola hubungan yang saling berpengaruh satu sama lain (Green, 1980 [seperti] dikutip oleh Heri, 2007).

Tujuan
Suatu pendidikan kesehatan dalam keluarga secara umum memiliki tujuan untuk mengubah perilaku individu dan masyarakat di bidang kesehatan. Menurut WHO (1954), tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk merubah perilaku orang atau masyarakat dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga, dan masyarakat dalam memelihara perilaku sehat dan mengupayakan derajat kesehatan yang optimal merupakan tujuan pokok penkes. Secara lebih rinci tujuan pendidikan kesehatan disebutkan oleh azwar (1983) dalam suryani (2009) menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Perilaku yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat. Dengan demikian kader kesehatan mempunyai tanggung jawab di dalam penyuluhannya mengarahkan kepada keadaan bahwa cara-cara hidup sehat menjadi kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari.
b.      Secara mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya sendiri maupun menciptakan perilaku sehat di dalam kelompok. Itulah sebabnya dalam hal ini pelayanan kesehatan dasar (phc) diarahkan agar dikelola sendiri oleh masyarakat, dalam hal bentuk yang nyata adalah pkmd, satu contoh pkmd adalah posyandu. Seterusnya dalam kegiatan ini diharapkan adanya langkah-langkah mencegah timbulnya penyakit.
c.       Mendorong berkembangnya dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada secara tepat. Ada kalanya masyarakat memanfaatkan sarana kesehatan yang ada secara berlebihan. Sebaliknya sudah sakit belum pula menggunakan sarana kesehatan yang ada sebagaimana mestinya.
Pendidikan kesehatan juga memiliki aspek penting yang salah satu diantaranya adalah komunikasi. Cara berkomunikasi yang digunakan dalam pendidikan kesehatan akan mempengaruhi hasil dalam memberikan pendidikan kesehatan pada seseorang. Komunikasi kesehatan masyarakat telah bergeser dari strategi yang sebagian demi sebagian (piecemeal strategies) ke proses yang menyeluruh berdasarkan atas penelitian dan perencanaan yang berfokuskan pada konsumen (Rasmuson, 1988 [seperti] dikutip oleh Machfoedz & Suryani, 2008). Tujuan komunikasi kesehatan masyarakat adalah menumbuhkan perubahan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan dan berpacu pada peningkatan derajat kesehatan. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan kesehatan menurut WHO.
Pendidikan kesehatan tidak dilakukan secara serta merta tanpa persiapan atau perencanaan khusus. Perencanaan menjadi langkah awal penentu dalam sukses atau tidaknya sebuah program. Bagian dari perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi aspek perilaku yang menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan kemudian dilanjutkan dnegan pengambilan langkah-langkah lain yang harus ditempuh sebagai bentuk pelaksanaan tindak lanjut dari perencanaan. Setelah melakukan perencanaan dan pelaksanaan dalam pendidikan kesehatan, pemberi pendiidkan kesehatan perlu mengadakan penilaian. Dengan adanya penilaian, maka kita akan dapat mengetahui hasil pekerjaan kita, yang akan dapat melihat kekurangannya sejauh mana hasil kemajuan dari sistem pendidikan kesehatan yang telah diterapkan untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut (Machfoedz & Suryani, 2008).
Sasaran
Secara umum pendidikan kesehatan memiliki tiga sasaran kelompok, yaitu pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu, pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok dan pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat.
Meskipun berbeda, tujuan yang ingin dicapai dari ketiga sasaran itu serupa, berupa perubahan sikap dan perilaku individu kelompok, atau pun masyarakat agar menjadi lebih baik.

Tahap-tahap pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan yang baik harus dilakukan secara terstruktur agar tujuan dapat dicapai dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan langkah yang sistematis. Langkah yang dapat ditempuh dalam suatu pedidikan kesehatan antara lain:
a.       Tahap sensitisasi
Tahap pertama berisi pemberian informasi mengenai masalah kesehatan, pengetahuan kesehatan, serta fasilitas kesehatan yang ada. Namun demikian pada tahap ini belum merujuk pada perubahan perilaku.
b.      Tahap publisistas
Melanjutkan tahap yang pertama dengan fokus pada publikasi layanan kesehatan.
c.       Tahap edukasi
Tahap ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap menjadi apa yang diinginkan, metode yang sesuai dengan proses belajar dan mengajar.
d.      Tahap motivasi
Diharapkan pada tahap ini masyarakat dapat merubah perilaku dan melanjutkan hal tersebut.

  1. PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM KELUARGA
               Pendidikan Kesehatan  keluarga berfokus pada fungsi keluarga yang sehat dalam perspektif sistem keluarga dan memberikan pendekatan terutama pencegahan . Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berfungsi secara sehat secara luas dikenal: keterampilan komunikasi yang kuat, pengetahuan tentang perkembangan khas manusia, keterampilan membuat keputusan yang baik, positif harga diri ,dan hubungan interpersonal yang sehat. Tujuan pendidikan kehidupan keluarga adalah untuk mengajar dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan ini untuk memungkinkan individu dan keluarga untuk berfungsi optimal .
Pendidikan kesehatan keluarga mempertimbangkan isu-isu sosial termasuk ekonomi, pendidikan, masalah kerja keluarga, orangtua, seksualitas, gender dan lainnya dalam konteks keluarga. Mereka percaya bahwa masalah sosial seperti penyalahgunaan zat, kekerasan dalam rumah tangga, pengangguran, hutang, dan kekerasan terhadap anak dapat lebih efektif ditangani dari perspektif yang menganggap individu dan keluarga sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Pengetahuan tentang fungsi keluarga yang sehat dapat diterapkan untuk mencegah atau meminimalkan banyak masalah ini.
Tingkat pencegahan dalam keluarga
1.      Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencegah penyakit, ketidakmampuan dan cedera. Pencegahan primer melibatkan peningkatan kesehatan melalui penyuluhan kesehatan dengan penekanan pada pembentukan gaya hidup sehat guna meningkatkan tingkat fungsional optimal (seperti nutrisi, latihan, tiur, rekreasi, relaksasi, tidak menggunakan alkohol, tembakau, dan obat-obatan), pembentukan kepribadian yang sehat, konseling, dan pembentukan lingkungan sosial yang sehat (Hitchcook, Stubert & Thomas, 1999). Pencegahan primer meningkatkan dan mempertahankan kesehatan keluarga.
Pencegahan primer berdampak dalam peningkatan promosi kesehatan di keluarga, peningkatan kesehatan keluarga menyeluruh untuk setiap anggota keluarga. Promosi kesehatan di desain agar dapat berkontribusi dalam pertumbuhan, perluasan atau menghasilkan yang terbaik bagi kesehatan. promosi kesehatan hal yang positif, proses dinamis berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan perbaikan, bukan semata-mata menghindar dari penyakit (Pender, Carolyn & Mary, 2002).



2.      Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah aktivitas yang berhubungan dengan deteksi dini dan treatmen. Fokus pencegahan ini adalah dengan melakukan skrining untuk mendeteksi penyakit pada fase awal.
3.      Pencegahan tersier
Pencegahan tersier merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencegah penyakit tidak bertambah parah (kronis) dan tidak menimbulkan ketidakmampuan pada individu. Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan melakukan rehabilitasi kepada individu yang meliputi rehabilitasi fisik, psikis, dan spiritual (Hitchcook, Stubert & Thomas, 1999).
Tujuan keperawatan keluarga
Tujuan umum keperawatan keluarga adalah meningkatkan kesadaran, keinginan, dan kemampuan keluarga dalam meningkatkan, mencegah, memelihara kesehatan mereka sampai pada tahap yang optimal dan mampu melaksanakan tugas-tugas mereka secara produktif.
Tujuan khususnya adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan keluarga dalam hal
1.      Mengidentifikasi masalah yang mereka hadapi
2.      Mengambil keputusan tentang siapa/kemana dan bagaiman pemecahan masalah
3.      Meningkatkan mutu kesehatan keluarga
4.      Mencegah terjadinya penyakit
5.      Melaksanakan usaha penyembuhan
6.      Melaksanakan usaha rehabilitasi penderita melalui asuhan keperawatan
7.      Membantu tenaga profesional dalam menanggulangi masalah



Peran, fungsi, dan kompetensi perawat keluarga
Peran adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau pelaksana satu pekerjaan yang pantas dilakukan oleh orang tersebut. Dalam meningkatkan kemampuannya menyelesaikan masalah kesehatan, perawat dapat berperan dalam keperawatan keluarga sebagai:
1.Pemantau kesehatan (health monitor).
Perawat membantu keluarga mengenali penyimpangan kesehatan dengan menganalisis data secara objektif serta membuat keluarga sadar tentang masalah di keluarga.
2.Pemberi asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang sakit.
3.Koordinator perawatan kesehatan keluarga.
4.Fasilitator
Perawat dapat meningkirkan rintangan yang menghambat perawatan kesehatan keluarga.
5.Pendidilk
Perawat harus mampu memberi pendidikan pada klien agar mampu mengatasi masalahnya sendiri.
6.Penasehat
Dengan komunikasi yang baik, keluarga akan berani meminta nasehat perawat dan perawat  akan memberi nasehat yang benar.

                                                  

Daftar Pustaka
Ali, Z. (2010). Pengantar Keperawatan Keluarga (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Bastable, S. B. (1999). Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-Prinsip Pengajaran dan Pembelajaran (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Effendy, N. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat (edisi kesatu). Jakarta: EGC.
Machfoedz, I., Suryani, E. (2008). Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi Kesehatan (edisi kesatu). Yogyakarta: Fitramaya.
Maulana, H. D. J. (2007). Promosi Kesehatan (edisi kesatu). Jakarta: EGC.